smb-logo

Cara Membuat NAS Murah dari STB Bekas: Optimasi Armbian dengan Samba dan NFS

SERVER Jun 25, 2026

Halo semuanya!

Apakah kamu ingin memiliki cloud pribadi atau file server di rumah tapi terhalang budget? Solusi terbaiknya bukanlah merakit PC server yang mahal dan boros listrik. Kamu bisa memanfaatkan STB (Set-Top Box) bekas yang diinstal Armbian untuk disulap menjadi sebuah NAS (Network Attached Storage) super hemat!

Dengan modal STB bekas seharga Rp 100–200 ribuan, konsumsi daya hanya 1–2 watt, dan dukungan native Linux, kamu sudah bisa memiliki server file yang menyala 24 jam. Apalagi jika dikombinasikan dengan media server seperti Jellyfin atau cloud storage seperti CasaOS, STB bekas ini langsung naik kelas.

Namun, tantangan utamanya adalah performa transfer file yang lambat dan masalah perizinan (permission). Dalam panduan kali ini, kamu akan dipandu cara optimasi Armbian untuk NAS menggunakan kombinasi Samba (untuk Windows/macOS) dan NFS (untuk Linux) agar performanya maksimal.

Kenapa Memilih STB + Armbian untuk NAS?

Sebelum masuk ke teknis, berikut gambaran apa saja yang bisa kamu lakukan dengan NAS hemat biaya ini:

  • File sharing universal — akses folder layaknya drive lokal dari Windows, macOS, maupun Linux.
  • Media server — streaming video ke Smart TV atau HP menggunakan Jellyfin.
  • Auto backup — otomatis mencadangkan foto dari HP atau menggunakan Time Machine untuk macOS.
  • Docker host — menjalankan berbagai layanan self-hosted dengan mulus.

Perbandingan Protokol: Samba vs NFS

Untuk memaksimalkan akses, kita akan menggunakan dua protokol berbeda. Apa bedanya?

Aspek Samba (SMB/CIFS) NFS (Network File System)
Kecocokan Windows, macOS Linux, perangkat ARM
Performa Menengah (ada overhead) Sangat tinggi (ringan, native Linux)
Autentikasi Membutuhkan user & password Berbasis IP address

Rekomendasi: gunakan Samba saat mengakses dari Windows/macOS, dan gunakan NFS saat mengakses dari perangkat Linux lainnya.

Tutorial Lengkap Setup NAS di Armbian

Persiapan Awal

  1. STB dengan Armbian terinstal (seperti HG680P, B860H v1/v2, dll). Sangat disarankan menggunakan STB dengan port USB 3.0 untuk kecepatan maksimal.
  2. HDD atau SSD eksternal.
  3. Koneksi menggunakan kabel LAN (Ethernet). Hindari WiFi karena tidak stabil untuk transfer file besar.
  4. Akses SSH ke STB Armbian kamu.

Langkah 1: Format & Mount Storage (HDD/SSD)

Pertama, siapkan media penyimpanannya. Buka terminal SSH kamu dan cek dulu disk yang terdeteksi:

lsblk

Setelah tahu nama device-nya (misalnya sda), format ke ext4:

sudo mkfs.ext4 /dev/sda1

Buat folder untuk mounting, lalu mount disk-nya:

sudo mkdir -p /mnt/nas
sudo mount /dev/sda1 /mnt/nas

Agar HDD otomatis ter-mount setiap kali STB restart, kita perlu menambahkan entry ke /etc/fstab. Cara yang paling aman adalah menggunakan UUID (bukan nama device seperti /dev/sda1), karena nama device bisa berubah urutan setelah reboot dan bikin disk gagal ter-mount.

Cek UUID disk kamu dengan perintah ini:

sudo blkid /dev/sda1

Outputnya akan terlihat seperti ini:

/dev/sda1: UUID="a1b2c3d4-e5f6-..." TYPE="ext4"

Salin nilai UUID tersebut, lalu buka file fstab:

sudo nano /etc/fstab

Tambahkan baris berikut di bagian paling bawah, ganti bagian UUID=... dengan UUID asli kamu:

UUID=a1b2c3d4-e5f6-xxxx-xxxx-xxxxxxxxxxxx  /mnt/nas  ext4  defaults,noatime  0  2

Langkah 2: Instalasi dan Setup Samba

Untuk pengguna Windows dan macOS, Samba adalah protokol yang dibutuhkan.

sudo apt update && sudo apt upgrade -y
sudo apt install samba samba-common-bin -y

Backup konfigurasi asli dulu sebelum diubah:

sudo cp /etc/samba/smb.conf /etc/samba/smb.conf.backup

Buka file konfigurasi Samba:

sudo nano /etc/samba/smb.conf

Tambahkan konfigurasi berikut di bagian paling bawah file:

[global]
   workgroup = WORKGROUP
   server string = Armbian NAS
   map to guest = never
   usershare allow = yes
   allow hosts = 127.0.0.1/32 192.168.1.0/24
   follow symlinks = yes
   allow insecure wide links = yes
   wide links = yes
   unix extensions = no

[NAS]
   path = /mnt/nas
   available = yes
   valid users = nasuser
   read only = no
   browsable = yes
   writable = yes
   create mask = 0775
   directory mask = 0775
   force user = nasuser
Catatan: parameter allow hosts di atas membatasi akses Samba hanya dari jaringan lokal kamu (192.168.1.0/24). Sesuaikan range IP-nya kalau subnet jaringan rumah kamu berbeda (misalnya 192.168.0.0/24).

Sekarang buat user khusus untuk akses Samba:

# Buat user Linux bernama 'nasuser'
sudo useradd -m nasuser
sudo passwd nasuser

# Daftarkan user ke sistem Samba
sudo smbpasswd -a nasuser

# Atur kepemilikan dan permission folder
sudo chown -R nasuser:nasuser /mnt/nas
sudo chmod -R 775 /mnt/nas
Soal permission 775: angka ini berarti pemilik folder (nasuser) dan grup-nya punya akses baca-tulis-eksekusi penuh, sementara pengguna lain hanya bisa membaca. Ini lebih aman dibanding 777 yang memberi akses tulis ke semua orang di sistem, terutama penting kalau server kamu nanti juga bisa diakses dari luar rumah.

Restart dan aktifkan layanan Samba:

sudo systemctl restart smbd nmbd
sudo systemctl enable smbd nmbd

Sekarang kamu bisa mengaksesnya dari Windows File Explorer dengan mengetik \\IP_ARMBIAN_KAMU di address bar.

Langkah 3: Instalasi dan Setup NFS

Bagi sesama pengguna Linux, NFS memberikan performa transfer yang lebih cepat dan stabil.

sudo apt install nfs-kernel-server -y
sudo nano /etc/exports

Tambahkan baris izin akses berikut (sesuaikan subnet dengan jaringan rumahmu):

/mnt/nas    192.168.1.0/24(rw,sync,no_subtree_check,no_root_squash)

Terapkan dan aktifkan NFS:

sudo exportfs -v
sudo systemctl restart nfs-kernel-server
sudo systemctl enable nfs-kernel-server

Langkah 4: Optimasi Performa ARM

Karena prosesor STB berbasis ARM cukup terbatas, kita perlu melakukan sedikit tweaking pada memori dan port USB agar transfer file tidak tersendat.

Pertama, optimalkan delay USB:

sudo nano /etc/modprobe.d/usb-opt.conf

Tambahkan baris berikut:

options usb_storage delay_use=0

Kedua, tingkatkan buffer write di sysctl:

sudo nano /etc/sysctl.conf

Tambahkan konfigurasi ini di baris paling bawah:

vm.dirty_ratio = 40
vm.dirty_background_ratio = 10
vm.dirty_expire_centisecs = 3000
vm.dirty_writeback_centisecs = 500

Terapkan perubahan tanpa perlu reboot:

sudo sysctl -p

Troubleshooting: Masalah Umum & Solusinya

Kecepatan transfer mentok di 10–20 MB/s

Ini sangat normal kalau STB kamu masih menggunakan port USB 2.0. Untuk kecepatan di atas 30 MB/s, pastikan menggunakan STB dengan port USB 3.0 (seperti seri B860H v2 ke atas) dan SSD.

HDD sering disconnect

Biasanya karena daya listrik dari port USB STB tidak kuat mengangkat HDD. Gunakan kabel Y-splitter (2 port USB ke 1 HDD) atau adaptor daya eksternal untuk HDD kamu.

Akses ditolak (Access Denied) di Windows

Pastikan firewall tidak memblokir jalur Samba dengan menjalankan:

sudo ufw allow samba

STB cepat panas (overheat)

Karena menyala 24/7 bersama HDD, STB rawan panas. Sangat disarankan untuk memodifikasi casing dengan menambahkan kipas (fan) atau heatsink ekstra.

Samba gagal start setelah edit konfigurasi

Cek dulu apakah ada error di file konfigurasi sebelum restart:

testparm

Perintah ini akan menampilkan baris mana yang bermasalah sehingga lebih mudah di-debug.

FAQ

Apakah aman membiarkan HDD menyala 24 jam di STB?

Aman, asalkan asupan dayanya stabil dan suhu STB terjaga. Jika tidak ada aktivitas, HDD modern biasanya akan masuk ke mode idle. Kalau kamu ingin mencegah HDD tertidur saat dibutuhkan standby terus, jalankan:

sudo hdparm -S 0 /dev/sda

Bisakah menggunakan fitur Time Machine dari macOS?

Bisa. Kamu perlu menambahkan blok konfigurasi berikut di dalam file smb.conf:

[TimeMachine]
   path = /mnt/nas/time_machine
   valid users = nasuser
   read only = no
   browsable = yes
   fruit:time machine = yes
   fruit:time machine max size = 500G

Pastikan juga sudah menginstal paket avahi-daemon agar share Time Machine terdeteksi otomatis oleh macOS di jaringan lokal:

sudo apt install avahi-daemon -y
sudo systemctl enable avahi-daemon

HDD atau SSD, mana yang lebih baik?

Kalau budget memungkinkan, SSD jauh lebih direkomendasikan. SSD lebih hemat daya, tidak punya komponen mekanis (bebas getaran), lebih tahan banting, dan tidak membebani arus listrik dari port USB STB.


Semoga panduan ini membantu kamu memaksimalkan STB bekas sebagai NAS yang handal. Kalau ada langkah yang kurang lancar di versi Armbian kamu, tulis aja di kolom komentar di bawah!

Tags